Diperbarui 09 June 2026
Ponan adalah upacara adat tahunan masyarakat Sumbawa, termasuk Desa Poto, sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang diperoleh. Upacara ini dilaksanakan setelah musim panen raya, biasanya pada bulan April hingga Juni.
Tahapan Upacara Ponan:
- Mita (Musyawarah Awal) — Para tetua adat dan tokoh masyarakat berkumpul di balai desa untuk menentukan hari baik pelaksanaan Ponan berdasarkan perhitungan kalender adat Sumbawa (Taun Samawa).
- Bersih Dusun (Roah Gawah) — Seluruh warga bergotong royong membersihkan lingkungan desa, sumber mata air, dan area sekitar makam leluhur sebagai bentuk penyucian diri dan lingkungan.
- Menyiapkan Sesajen (Semekat) — Masyarakat menyiapkan sesajen berupa hasil bumi seperti padi, jagung, pisang, kelapa, ketan, dan ayam panggang. Sesajen ini ditempatkan di atas anyaman bambu (nyiru) yang dihias dengan janur kuning.
- Doa Bersama (Baca Doa) — Dipimpin oleh Ketua Adat atau Kiai, seluruh warga berkumpul di lapangan desa atau di bawah pohon besar yang dianggap keramat. Doa dipanjatkan untuk keselamatan dan keberkahan desa, serta penghormatan kepada leluhur.
- Makan Bersama (Makan Bajambau) — Setelah doa, seluruh warga makan bersama dengan hidangan yang telah disiapkan. Hidangan khas yang disajikan antara lain sepat (nasi dibungkus daun pisang), ayam talak (ayam masak kuning), jaje urap (kue tradisional), dan tape ketan.
- Pertunjukan Kesenian — Acara diakhiri dengan pertunjukan seni tradisional seperti tarian Lawang Sakepeng, silat Samawa, dan gendang beleq. Pada malam harinya, diadakan acara hiburan rakyat seperti pencak silat dan pembacaan syair adat.
Nilai filosofis Ponan adalah pengingat bahwa manusia harus selalu bersyukur, menjaga kebersamaan, dan menghormati alam sebagai sumber kehidupan. Hingga saat ini, Ponan masih rutin dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Desa Poto.