Diperbarui 09 June 2026
Lako adalah tradisi gotong royong khas masyarakat Sumbawa yang sudah mengakar kuat di Desa Poto. Berbeda dengan gotong royong pada umumnya, Lako memiliki aturan dan tata cara yang diatur oleh adat.
Bentuk-bentuk Lako:
- Lako Nguma — Gotong royong membantu warga yang akan menempati rumah baru. Warga secara sukarela membantu membersihkan, mengecat, dan mengatur perabotan rumah. Sebagai imbalan, tuan rumah menyediakan hidangan sederhana berupa kopi dan jaje tradisional.
- Lako Uma — Gotong royong di sawah atau ladang milik warga, terutama saat musim tanam dan musim panen. Sekelompok warga secara bergiliran membantu mengerjakan lahan anggota kelompok lainnya. Sistem ini efisien dan mempererat hubungan antarwarga.
- Lako Nikah — Gotong royong dalam mempersiapkan acara pernikahan. Warga membantu mendirikan tenda, menyiapkan hidangan, membersihkan lingkungan, dan melayani tamu. Tuan rumah cukup menyediakan bahan makanan dan minuman.
- Lako Kematian — Gotong royong saat ada warga yang meninggal dunia. Warga secara spontan membantu mempersiapkan pemakaman, menggali kubur, memandikan jenazah, menyiapkan konsumsi, dan mengurus surat-surat kematian. Lako Kematian merupakan salah satu tradisi yang paling kuat dipegang oleh masyarakat.
- Lako Bala — Gotong royong saat terjadi bencana alam seperti banjir, longsor, atau kebakaran. Warga secara sigap bahu-membahu mengevakuasi korban, membersihkan puing-puing, dan membangun kembali rumah yang rusak.
Sistem Pencatatan Lako:
Setiap kepala keluarga diwajibkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan Lako. Partisipasi dicatat oleh Ketua RT atau Kepala Dusun. Warga yang tidak hadir tanpa alasan sah akan dicatat sebagai "hutang Lako" yang harus dibayar pada kesempatan berikutnya.
Nilai filosofis Lako adalah pengingat bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri dan harus saling membantu. Tradisi ini menjadi perekat sosial yang sangat kuat di masyarakat Desa Poto hingga saat ini.