Diperbarui 09 June 2026
Rebo Bontong adalah tradisi masyarakat Sumbawa yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Safar (kalender Hijriah). Dalam bahasa Samawa, "Rebo" berarti Rabu dan "Bontong" berarti akhir. Tradisi ini merupakan wujud syukur dan permohonan perlindungan dari marabahaya.
Pelaksanaan di Desa Poto:
- Bersuci (Mandi Safar) — Sebelum matahari terbit, seluruh warga berbondong-bondong ke pantai atau sumber mata air terdekat untuk mandi bersama. Air mandian telah dicampur dengan bunga tujuh rupa dan daun-daunan tertentu sebagai simbol pembersihan diri dari segala keburukan dan penyakit.
- Menyiapkan Bubur Rebo Bontong — Warga memasak bubur khas yang disebut "Bubur Rebo Bontong" yang terbuat dari beras ketan, santan kelapa, dan gula merah. Bubur ini disajikan dengan taburan kelapa parut dan dimakan bersama-sama dengan keluarga dan tetangga.
- Doa Tolak Bala — Warga berkumpul di masjid atau balai desa untuk melaksanakan salat sunnah dan doa tolak bala bersama yang dipimpin oleh Kiai. Dalam doa tersebut, masyarakat memohon perlindungan kepada Allah SWT dari segala musibah dan bencana.
- Makan Bajambau — Acara ditutup dengan makan bersama hidangan yang telah disiapkan secara gotong royong oleh warga.
Makna Filosofis:
Rebo Bontong mengajarkan pentingnya introspeksi diri, menjaga kebersihan (lahir dan batin), serta mempererat tali silaturahmi antarsesama. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa manusia harus senantiasa bersyukur dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Meskipun zaman telah berubah, tradisi Rebo Bontong masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Poto sebagai warisan budaya yang sarat akan nilai-nilai kebaikan.