Loading...

Adat Perkawinan Sumbawa

Perkawinan

Diperbarui 09 June 2026

Adat Perkawinan Sumbawa

Perkawinan adat Sumbawa di Desa Poto merupakan rangkaian prosesi yang sarat dengan nilai-nilai kekeluargaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur. Prosesi ini terdiri dari beberapa tahapan yang berlangsung selama beberapa hari hingga minggu.

Tahapan Perkawinan Adat:

  1. Baselo (Pendekatan Awal) — Keluarga pihak laki-laki mengutus seorang juru bicara (kepala adat atau kerabat terdekat) untuk menyampaikan niat baik kepada keluarga pihak perempuan. Baselo biasanya dilakukan dengan membawa sirih pinang (ngo) sebagai simbol penghormatan.
  1. Nyorong (Lamaran Resmi) — Prosesi lamaran secara resmi dengan membawa barang hantaran berupa uang, kain, perhiasan, dan makanan tradisional. Barang hantaran ini disebut "seserahan" dan jumlahnya telah ditentukan melalui musyawarah sebelumnya. Masyarakat Desa Poto biasanya mengarak barang hantaran ini dari rumah calon mempelai laki-laki ke rumah calon mempelai perempuan dengan iring-iringan keluarga dan tetangga.
  1. Mappak Lewo (Akad Nikah) — Akad nikah dilaksanakan di rumah mempelai perempuan atau di masjid. Prosesi ini dipimpin oleh penghulu dan disaksikan oleh saksi dari kedua belah pihak serta tokoh adat. Mas kawin yang umum di Sumbawa adalah uang logam perak dan seperangkat alat salat.
  1. Barapan (Resepsi Resmi) — Pesta pernikahan yang biasanya digelar secara meriah dengan mengundang seluruh warga desa. Hidangan khas yang disajikan antara lain singang (ikan atau ayam masak kuning berbumbu tamarind), balaput (sate kerang), dan jaje khas Sumbawa.
  1. Mano (Tradisi Tiga Hari) — Setelah resepsi, pengantin baru menjalani tradisi Mano, yaitu tinggal di rumah mempelai perempuan selama tiga hari sebagai bentuk penghormatan dan perkenalan dengan keluarga besar. Pada masa ini, pengantin laki-laki membantu pekerjaan rumah mertua sebagai simbol tanggung jawab.
  1. Nundong (Pemberian Nasehat) — Para tetua adat memberikan nasihat perkawinan kepada kedua mempelai yang dirangkai dalam syair-syair adat berbahasa Samawa. Syair ini berisi petuah tentang bagaimana menjadi suami-istri yang baik, menjaga keharmonisan rumah tangga, serta pentingnya gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

Pakaian adat yang dikenakan adalah kain tenun Bateq khas Sumbawa dengan motif khas seperti motif keker (garis vertikal) dan motif kait (simbol keabadian).

Diskusi (0)

Bergabung dalam Diskusi

Login dengan Google untuk berkomentar dan berdiskusi.

Login dengan Google

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama!