Loading...

Tradisi Bajaga — Jaga Desa dan Malam Berjaga

Tradisi

Diperbarui 09 June 2026

Tradisi Bajaga — Jaga Desa dan Malam Berjaga

Bajaga adalah tradisi jaga malam yang dilakukan secara bergiliran oleh warga Desa Poto. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan ronda biasa, melainkan sudah mengakar sebagai bentuk kewajiban adat setiap warga laki-laki dewasa yang sudah menikah.

Sistem Pelaksanaan:

Setiap malam, empat hingga enam orang laki-laki dari masing-masing dusun secara bergiliran melaksanakan Bajaga di pos jaga (poskamling) yang tersebar di beberapa titik strategis desa. Mereka membawa kentongan (teteak) yang terbuat dari bambu atau kayu sebagai alat komunikasi tradisional.

Kode Kentongan:

  • Pukulan cepat dan rapat: tanda bahaya (kebakaran, pencurian, atau bencana alam)
  • Pukulan lambat tiga kali: suasana aman dan kondusif
  • Pukulan satu kali panjang: pergantian shift jaga

Nilai Budaya:

Bajaga mengajarkan nilai-nilai gotong royong, tanggung jawab sosial, serta kepedulian terhadap sesama. Warga yang tidak melaksanakan kewajiban Bajaga tanpa alasan yang sah akan dikenakan sanksi adat berupa teguran lisan hingga denda berupa beras atau kelapa untuk konsumsi bersama.

Di era modern, tradisi Bajaga tetap berjalan beriringan dengan sistem keamanan lingkungan binaan (Satlinmas) yang difasilitasi oleh pemerintah desa. Kentongan masih digunakan sebagai alat komunikasi tradisional yang berdampingan dengan pengeras suara masjid dan grup WhatsApp desa.

Diskusi (0)

Bergabung dalam Diskusi

Login dengan Google untuk berkomentar dan berdiskusi.

Login dengan Google

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama!