Diperbarui 09 June 2026
Masyarakat Desa Poto memiliki serangkaian upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran bayi. Upacara ini bertujuan untuk memberikan perlindungan spiritual kepada bayi dan ibu, serta memperkenalkan anggota baru kepada masyarakat.
Rangkaian Upacara:
- Robo (Potong Tali Pusar) — Dilakukan oleh dukun beranak (Sando Beranak) atau bidan desa. Tali pusar yang telah dipotong dikuburkan di halaman rumah bersama dengan rempah-rempah sebagai simbol harapan agar bayi tumbuh sehat dan kuat.
- Nanya Oi (Mandi Bayi Pertama) — Bayi dimandikan dengan air yang dicampur bunga-bunga dan daun-daunan tertentu seperti daun kemangi, daun pandan, dan bunga mawar. Air mandian ini dipercaya dapat membersihkan aura negatif dan memberikan energi positif.
- Ngendo (Aqiqah) — Upacara aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran. Kambing disembelih (dua ekor untuk bayi laki-laki, satu ekor untuk bayi perempuan) dan dagingnya dimasak serta dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan fakir miskin.
- Pemberian Nama (Mappak Nga) — Nama bayi biasanya diberikan oleh Ketua Adat atau Kiai desa. Pemberian nama diawali dengan pembacaan doa dan azan di telinga kanan bayi serta iqamat di telinga kiri.
- Notong (Pukul Tujuh Hari) — Pada hari ketujuh, keluarga mengadakan syukuran kecil dengan mengundang tetangga terdekat. Hidangan khas yang disajikan adalah bubur merah putih (bubur sumsum) dan telur rebus yang dicelupkan ke dalam pewarna alami.
Dalam setiap tahapan, nilai-nilai islami dan adat berpadu secara harmonis, mencerminkan sinkretisme budaya yang khas di Sumbawa.