Loading...

Tarian Lawang Sakepeng

Kesenian

Diperbarui 09 June 2026

Tarian Lawang Sakepeng

Lawang Sakepeng adalah tarian tradisional khas Sumbawa yang berasal dari kata "lawang" (pintu) dan "sakepeng" (satu kepeng/uang logam). Tarian ini melambangkan keterbukaan dan keramahan masyarakat Sumbawa dalam menyambut tamu.

Sejarah dan Filosofi:

Lawang Sakepeng diciptakan pada masa Kesultanan Sumbawa sebagai tari penyambutan bagi tamu-tamu kerajaan. Uang logam (kepeng) yang menjadi properti utama tarian melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Ketika pintu dibuka (lawang dibuka) dan uang logam diberikan (sakepeng), itu berarti tuan rumah memberikan penghormatan yang tulus kepada tamu.

Gerakan dan Properti:

Tarian ini dibawakan oleh 4 hingga 8 orang penari putri dengan gerakan yang gemulai namun penuh makna. Properti yang digunakan berupa:

  • Bokor (wadah kuningan) berisi uang logam kepeng
  • Selendang sutra warna kuning (simbol keagungan)
  • Kipas tradisional dari bambu dan kain

Gerakan tarian terbagi menjadi tiga bagian:

  1. Bagian Pembuka — Penari memasuki arena dengan gerakan berjalan perlahan sambil menghormat kepada penonton.
  1. Bagian Inti — Penari membagikan uang kepeng kepada penonton sebagai simbol pemberian berkah dan rezeki.
  1. Bagian Penutup — Penari meninggalkan arena dengan gerakan mundur sebagai simbol penghormatan.

Iringan Musik:

Tarian Lawang Sakepeng diiringi oleh musik tradisional yang terdiri dari gendang, gong, serunai (alat tiup bambu), dan rebana. Irama yang dimainkan adalah irama gendang beleq yang rancak dan bersemangat.

Di Desa Poto, Tarian Lawang Sakepeng rutin ditampilkan pada acara-acara adat, penyambutan tamu penting, dan festival budaya. Sanggar tari desa yang dikelola oleh pemuda-pemudi desa aktif melatih generasi muda untuk melestarikan tarian ini.

Diskusi (0)

Bergabung dalam Diskusi

Login dengan Google untuk berkomentar dan berdiskusi.

Login dengan Google

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama!